Sabtu, 11 Juni 2011

Alvi : IPK Tidak Menentukan Kesuksesan, Tapi Membuka Jalan Kesuksesan

Tulisan pertamaku yang di percaya buat nulis profil kak alvi.. dan alhamduliah dapet apresiasi yang baiik.. HOORRAAYYY... *lompat-lompat* 

Mahasiswa yang satu ini sudah banyak dikenal oleh kalangan dosen. Bukan hanya karena IPK yang selalu tinggi namun juga karena hasil tulisannya yang banyak menuai pujian.
Ia adalah Muhammad Alvi Syarin. Lulusan dari SMA Negeri 1 Palembang ini  sekarang sedang mengenyam pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya angkatan 2007.

Tidak ada yang menyangka bahwa pria yang memiliki IPK tinggi ini ternyata tidak terlalu pintar dalam akademik sewaktu SMA, maka ia lebih menyukai pelajaran olah raga dan pelajaran kosong. Ia sangat menyukai semua jenis olahraga salah satunya futsal. Meskipun tidak terlalu pintar dibidang akademik ia memiliki banyak prestasi lain diluar akademik diantaranya juara 2 futsal  sesumsel dan Juara 2 MTQ se Palembang saat SMP.
Ia sebenarnya memiliki cita-cita menjadi ABRI. Tapi sewaktu SMA ia berubah haluan dengan alasan umur yang tak mencukupi dan takut hitam. Sehingga ia mengikuti Bimbingan Belajar dan disarankan ibunya untuk mengambil jurusan akutansi.
Alasan mengapa ibunya meminta ia mengambil jurusan akutansi karena ia lahir di keluarga yang notabennya memiliki keterikatan dengan hukum. Sehingga sewaktu mengikuti tes Perguruan Tinggi Negeri ia memilih jurusan akutansi dan hukum. Namun tak disangka ia pun tetap lulus di jurusan hukum.
Ia pernah hampir tidak naik kelas saat duduk di bangku SMA kelas 2. Sehingga saat ia masuk ke perguruan tinggi ia tidak terlalu aktif dalam organisasi dan memilih untuk fokus dalam belajar. Ia sebenarnya mempunyai keinginan untuk terkenal dan lebih disorot oleh banyak orang dengan organisasi, namun ia tetap memilih untuk fokus belajar tanpa organisasi.
Sehingga ia yang dulunya memiliki hobi dengan semua olahraga berubah menjadi hobi membaca.
Kegiatan ia selama menjadi mahasiswa juga tidak terlalu sibuk. Ia lebih banyak menghabiskan waktu dirumah, mengurusi rumah tangga, belajar dan les. Ia melakukan hal itu karena ia lebih sering tinggal dengan adik-adiknya sedangkan kedua orang tua meraka berada di luar kota. Ia selalu menjalani kegiatan sebagai mahasiswa biasa yang seusai kuliah pulang kerumah. Karena banyak waktu dirumah ia semakin lebih sering membaca untuk menghabiskan waktu. Ia beranggapan  dengan membaca dapat menambah ilmu pengetahuan. “Semakin banyak ilmu pengetahuan yang didapat maka semakin tinggi derajat seseorang” ungkapnya.
Ia juga mempunyai hobi memotong dan merapikan bonsai yang  banyak tumbuh di perkarangan rumahnya. Terkadang ia duduk santai mengobrol dengan kedua orang tuanya sambil menikmati keindahan tumbuhan bonsai. Lahir dari kedua orang tua yang merupakan hakim, membuat ia lebih banyak mengetahui tentang hukum.
Cowok kelahiran 24 maret ini sangat malas jika harus mengulang pelajaran. Oleh karena itu ia berprinsip untuk tidak ingin mendapat nilai C dalam mata kuliah. Karena apabila ia mendapat nilai C berarti ia harus mengulang lagi belajar mata kuliah itu. Tidak heran jika ia memiliki IPK yang di atas rata-rata.
 “IPK tidak menentukan kesuksesan tapi membuka jalan kesuksesan. IPK bukan syarat kunci. Seorang mahasiswa harus mempertanggung jawabkan nilai yang telah di dapat” ungkapnya. Masih banyak mahasiswa yang hanya berlomba-lomba mendapatkan nilai tinggi namun tidak dapat mempertanggung jawabkan apa yang mereka peroleh.Selain nilai yang tinggi mahasiswa juga harus memahami ilmu yang mereka peroleh. Untuk apa dan akan dibawa kemana ilmu itu. “Fokus dinilai tapi juga harus fokus di ilmu” ujarnya.
Awalnya ia tidak memiliki keinginan untuk menulis. Pada semester 5 ia masuk ke organisasi LPM dengan sedikit terpaksa dan hanya ingin sekedar membantu. Tugas pertama yang diberikan kepadanya saat itu adalah saat Todung Mulya Lubis bertandang ke Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya. Itulah kali pertama ia menulis berita dan ternyata hasilnya cukup memuaskan. Ia merasa sedikit tidak percaya diri saat menulis, namun karena mendapat tanggapan positif atas hasil tulisan berita pertamanya, mulai ada sedikit ketertarikannya pada dunia penulisan. LPM adalah organisasi pertamanya selama dia menjadi mahasiswa Fakultas Hukum, walaupun sebelumnya ia ikut organisasi lain seperti RAMAH, ALSA dan BEM yang hanya menjadi partisipan.
Walaupun pada awalnya ia tidak memiliki hobi sama sekali dalam menulis, namun banyak hasil tulisan yang ia sumbangkan untuk LPM Media Sriwijaya Fakultas Hukum. Semua hasil tulisannya itu juga banyak menuai pujian baik dari kalangan mahasiswa maupun dosen.
Pria yang selalu berpenampilan rapi ini sekarang memiliki keinginan  untuk membuat perpustakaan pribadi. Ia berharap keinginan itu dapat terwujud. Ia juga memiliki rencana untuk melanjutkan pendidikan S2 di salah satu Universitas di pulau jawa. Ia sekarang memiliki cita-cita agar ia menjadi seorang Profesor nantinya, menjadi hakim dan mengamalkan ilmunya di dunia pendidikan dengan menjadi dosen.
Ia sangat menghormati kedua orang tuanya. Baginya orang tua adalah sumber kebahagiaan dan motivasi. Karena berkat mereka kita dapat menjadi seperti sekarang ini. “membuat orang tua tersenyum, lebih bahagia daripada kita sukses” ujar pria berkulit putih ini.
Banyak mahasiswa yang lebih mengutamakan organisasi sehingga lupa tugas utamanya sebagai mahasiswa yaitu belajar. Nikmatilah masa mahasiswa, organisasi itu perlu tapi belajar juga penting. Perbanyak membaca karena dengan membaca kita dapat mengetahui informasi. “Hormati senior dan sayangi junior” tambahnya. 

0 komentar:

Posting Komentar