Sabtu, 11 Juni 2011

Salah siapa???

Seperti biasanya setiap pagi aku berangkat untuk menuntut ilmu kekampusku tercinta Universitas Sriwijaya. Pergi saat lampu jalanan belum padam atau bahkan suara ayam berkokok belum selesai itu sudah menjadi kebiasaan pagiku.

Meskipun aku tak ada kelas pagi hari itu, aku tetap berangkat sesuai kebiasaanku. Kenapa? Karena aku mencari jalan aman untuk mencapai kampusku dengan selamat. Aku biasa berangkat ke kampus dengan menggunakan “armada kuning” yang telah disiapkan oleh kampus. Kalau ditanya kenyamanan, yah lumayanlah walaupun terkadang masih ada satu atau dua bus yang tiba-tiba mogok dijalan dan terpaksa kita dipindah ke bus lain dengan berdiri didalam bus itu.
Ketidaknyamanan lainnya adalah masalah tentang perebutan bus yang terjadi akhir-akhir ini. Bahkan aku pernah dengar pernyataan dari beberapa temanku “Menjadi mahasiswa tidak harus cerdas, tapi harus bisa berlari cepat dan harus memiliki sikut yang tajam”. Sejujurnya, agak lucu aku mendengar pernyataan itu. Walaupun  memang benar adanya.
Banyak aku mendengar keluhan-keluhan dari mahasiswa untuk menambah armada bus yang ada atau keluhan-keluhan lain untuk segera menyelesaikan masalah perebutan bus itu. Apa keluhanku? Hanya satu “aku sangat bosan mendengar keluhan mereka”. Bagaimana masalah ini bisa selesai kalau hanya dengan keluhan. Kalau memang tidak mau untuk berebut bus, datang lebih pagi!. Sebenarnya datang pagi juga bukan salah satu solusi, karena sampai kampus yang didapat hanya kesunyian. Jangankan dosen, pihak akademik pun kadang belum ada. Tapi setidaknya aku bisa sampai kampus dengan selamat tanpa harus sikut-sikutan.
Awalnya aku jarang pergi sepagi itu kecuali ada MID semester atau sedang ujian semester. Entah sejak kapan mahasiswa yang antri untuk naik bus berubah menjadi anarkis. Tak ada lagi antrian, yang ada hanya tumpukan mahasiswa yang tak sabar untuk segera naik bus tanpa peduli yang lain. Sebagai mahasiswa yang selalu berangkat dengan menggunakan bus yang sama, pastinya aku pernah mengalami pengalaman berebut bus dan hasilnya sikutku lecet. Sejak saat itulah aku selalu berangkat lebih pagi dari biasanya.
Sebelumnya aku sudah menikmati sarana transportasi untuk menuju kampus dengan menggunakan kereta api atau biasa disebut Kertalaya. Hampir satu semester lebih aku menggunakan Kertalaya untuk menuju kampus. Berangkat dengan Kertalaya memang nyaman’, kita tidak akan bertemu dengan kemacetan dijalan, biayanya pun sedikit lebih murah. Namun setiap kelebihan pasti juga ada kekurangan antara lain lokasi stasiun kereta api yang mungkin lumayan jauh, jadwal keberangkatan kereta yang mungkin terlalu siang, walaupun kita tidak bertemu kemacetan Kertalaya tersebut terkadang berhenti beberapa menit karena kereta batu bara yang akan lewat terlebih dahulu, kalaupun kita berharap untuk menghindari rebut-rebutan bus itu tidak akan tercapai karena sesampainya kita di Stasiun Indralaya kita dijemput oleh bus unsri dan pastinya yang lebih dulu naik ke bus itulah yang berangkat dan waktu itu peminat untuk naik Kertalaya sangat banyak. Bahkan pernah ada salah satu mahasiswa yang mungkin karena takut tidak dapat bus atau memang tidak sabaran, dia langsung lompat dari Kereta yang belum berhenti sempurna, hasilnya dia jatuh terguling. untung saja luka yang didapat hanya lecet-lecet. Aku sama sekali tidak kasihan, malah aku anggap itu lucu. Salah siapa kereta belum berhenti dia sudah lompat duluan.
Tapi itu dulu, saat peminat naik Kertalaya sedang ramai-ramainya, kalau sekarang yang naik Kertalaya tersebut dapat kita hitung dengan jari. mungkin salah satu alasannya karena dulu ada bus dari bukit yang bersedia mengantar mahasiswanya ke stasiun kertapati secara gratis tapi sekarang sudah tidak ada dan jadwal keberangkatan kereta yang mungkin kurang pagi.
Banyak kejadian-kejadian tentang masalah perebutan bus ini, bahkan sampai ada mahasiswi yang meninggal dunia. Ironis. Baru-baru ini pun, ada tawuran antar Mahasiswa Teknik Mesin dan Ekonomi, dan lagi-lagi itu dipicu karena masalah rebutan bus. Aku sendiri melihat secara langsung tawuran itu bahkan hampir terkena lemparan batu. Lagi-lagi aku menganggap itu lucu, disaat semua panik untuk menghindar. Aku malah semangat untuk menonton dan jeprat-jepret mengambil foto. Aku penasaran apa yang memicu mereka seberani itu untuk melukai diri sendiri. Entah karena kesetiakawanan yang tinggi atau karena ingin dianggap jago. Hanya mereka yang tau.
Aku tidak menyalahkan siapa-siapa dalam masalah ini. Mengutip dari kata-kata temanku “Ini bukan salah dari bus yang kurang atau mahasiswa yang terlalu banyak, bukan salah universitas, rektor, bahkan mahasiswa. Tapi SISTEMNYA yang salah”. Memang benar, sistemnya yang perlu diperbaiki. Percuma disediakan tempat antrian bila masih rebut-rebutan. Memang sudah ada penjaga yang mengawasi, mengatur dan menjaga supaya mahasiswanya tertib mengantri, kalau menurutku itu masih kurang. Percuma saja di atur kalau mahasiswanya sendiri sulit diatur.
Memang bus masih kurang banyak dibanding dengan jumlah mahasiswanya. Tapi apabila mahasiswanya tertib antri mungkin tidak ada namanya kejadian rebut-rebutan bus. untuk yang tidak kebagian bus, itu resiko, jangan langsung menyerobot antrian ke depan dan akhirnya menyebabkan mahasiswa lain ikut-ikutan dan malah rebutan.
Sering aku mendengar cerita dari dosen-dosenku yang lulusan dari Unsri juga. Dari cerita mereka, rasanya perjuangan mereka untuk sampai kekampus lebih berat dari kita. Kita masih beruntung karena disediakan bus untuk berangkat kekampus walaupun jumlahnya terbatas atau masih ada kekurangan disana-sini.
Sekali lagi, perbaiki sistem yang ada. Lebih diatur lagi soal antrian di halte, kalau perlu gunakan sistem pembelian tiket agar tidak terjadi rebutan. Mulai saja dari diri kita sendiri, buat diri kita disiplin, hargai antrian, jangan hanya mempercepat lari dan menajamkan sikut. 

0 komentar:

Posting Komentar